HIJRAH KE HABASYAH ( Hijrah pertama dalam Islam )
Ketika Nabi SAW melihat keganasan kaum musyrikin kian hari semakin bertambah keras/ sedangkan beliau SAW tidak dapat memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin/ beliau pun berkata pada mereka ''alangkah baiknya jika kalian dapat berhijrah ke negri Habasyah karena disana terdapat seorang raja yang adil sekali/ dibawah kekuasaannya tidak seorang pun boleh dianiaya// karena itu pergilah kalian ke sana sampai Alloh memberikan jalan keluar kepada kita karena negri itu adalah negri yang cocok untuk kalian''//
Akhirnya berangkatlah kaum Muslimin ke nagri Habasyah demi menghindari fitnah dan lari menuju Alloh dengan membawa agama mereka// hijrah ini merupakan hijrah pertama dalam Islam/ diantara kaum Muhajir yang terkemuka adalah 'Utsman Bin 'Affan dan Istrinya yaitu Ruqoyyah binti Rosululloh SAW / Abu Hudzaifah beserta istrinya/ Zubair bin Awwam/ Mush'ab bin Umair dan Abdurrohman bin 'Auf// keberengakatan kaum muslimin ke Habasyah ini dilakukan dengan bergelombang atau beberapa kali pemberangkatan/ sampai akhirnya terkumpullah para shahabat Rosulullloh SAW kurang lebih sebanyak 80 orang di Habasyah/ ketika di Habasyah kaum MUslimin benar-banar disambut dengan baik/ mendapatkan jaminan keamanan dan melaksanakan ibadah dengan tenang/ tentram dan tanpa intimidasi ataupun tekanan dari kaum Musyrik//
Ketika kaum musyrikin Quraisy mengetahui bahwa sahabat-sahabat Rosululloh SAW hijrah ke Habasyah dan mereka pun dalam keadaan aman dan tentram di Habasyah/ maka mereka sepakat segera mengutus dua orang diplomat Quraisy yang kuat pendiriannya untuk bertemu raja Najasyi// kedua utusan Quraisy itu adalah Abdulloh bin Abi Robi'ah and Amr Bin 'Ash yang ketika itu belum masuk Islam/ mereka dibekali berbagai macam hadiah// hadiah-hadiah ini diberikan pada sang raja/ para pembantu dan para pendetanya dengan harapan agar mereka menolak kaum Muslimin dan mengembalikannya pada kaum musyrik Makkah// Sebelum kedua utusan ini menghadap raja Najasyi/ mereka terlebih dahulu melobi para pembantu dan uskupnya seraya menyerahkan hadiah yang dibawanya dari Makkah agar para pembantu dan uskupnya itu mendukung maksud kaum Musrik/ kemudian mereka berbicara pada raja Najasyi tentang kaum muhajir tersebut seraya menjelaskan kalau ternyata kaum Muhajirin itu adalah orang-orang yang meninggalkan agama kaumnya dan tidak pula masuk agama Najasyi dan mereka pun mengutarakan maksud kedatangan mereka/ ternyata raja Najasyi menolak untuk menyerahkan kaum Muslimin kepada kedua utusan itu sebelum dia menanyai kaum muhajir tentang agama baru yang dianutnya//
Di panggillah kaum Muslimin untuk menghadap raja Najasyi/ akhirnya Kaum Muslimin dan kedua utusan itu dihadapkan pada raja Najasyi/ raja Najasyi bertanya kepada kaum Muslimin ''agama apakah yang membuat kalian meninggalkan agama yang dipeluk oleh masyarakat kalian dan kalian pun tidak masuk ke dalam agamaku serta tidak masuk ke dalam salah satu agama yang ada?''
Ja'far Bin Abu Tholib selaku juru bicara kaum Muslimin pada waktu itu menjelaskan ''baginda raja… kami dahulu adalah orang-orang jahiliyyah/ menyembah berhala/ memakan bangkai/ berbuat zina/ memutuskan hubungan persaudaraan/ berlaku buruk terhadap tetangga/ dan yang kuat diantara kami menindas yang lemah// kemudian Alloh SWT mengutus seorang Rosul kepada kami/ kami mengenal nasabnya/ kami tahu betul kejujuran dan kesuciannya/ ia mengajak kami supaya mengesakan Alloh dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun juga/ ia memerintahkan kami supaya berbicara benar/ menunaikan amanah / memelihara persaudaraan/ berlaku baik terhadap tetangga/ menjauhkan diri dari segala perbuatan harom dan pertumpahan darah/ melarang kami berbuat jahat/ berdusta/ dan memakan harta milik anak yatim// kemudian kami beriman kepadanya / membenarkan semua tutur katanya/ menjauhi apa yang diharomkan olehnya dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami// karena itulah kami dimusuhi oleh masyarakat kami/ mereka menyiksa dan menganiaya kami/ memaksa kami supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala// mereka menindas dan memperlakukan kami sewenang-wenang dan menghalangi kami untuk menjalani agama kami/ kami terpaksa pergi ke negri baginda/ kami tidak menemukan pilihan lain kecuali baginda dan kami berharap tidak akan diperlakukan sewenang-wenang di negri baginda''//
Setelah mendengar penjelasan dari Ja'far Bin Abu Tholib/ raja Najasyi kembali bertanya '' Apakah kamu dapat menunjukan kepada kami sesuatu yang dibawa oleh Rosul Alloh itu?'' lalu Ja'far pun membacakan permulaan surat Maryam/ setelah mendengar firman Alloh itu/ berlinanglah airmata Najasyi sampai membasahi jenggotnya/ lalu berkata ''apa yang kau baca dan apa yang dibawa oleh nabi Isa sesungguhnya keluar dari sumber yang sama'' Najasyi pun kemudian menoleh kepada kedua orang utusan kaum Musyrikin seraya mempersilahkan mereka untuk pulang dan menegaskan kalau dia tidak akan menyerahkan kaum Muslimin kepada mereka//
Ketika kedua utusan Quraisy itu keluar dari hadapan Najasyi maka 'Amr Bin Ash berencana mendatangi kembali Najasyi dan memojokkan kaum Muhajirin dengan isu tentang Isa bin Maryam// Keesokan harinya/ utusan kaum Musyrik itu kembali menghadap raja Najasyi seraya menjelaskan kalau ternyata kaum Muhajirin itu menjelekkan Isa putra Maryam// kemudian untuk yang kedua kalinya Kaum Muslimin pun dihadapkan kembali pada raja Najasyi/ kali ini raja Najasyi ingin mendengar bagaimana pandangan kaum Muslimin terhadap Isa AlMasih// Ja'far pun kembali menerangkan ''pandangan kami terhadap Isa bin Maryam sesuai apa yang diajarkan oleh Nabi kami / bahwa Isa adalah hamba Alloh/ utusan Alloh/ ruh Alloh dan Kalimat-Nya yang ditiupkan ke dalam rahim Maryam yang masih perawan dan sangat tekun beribadah''
Setelah mandengar penjelasan dari kaum Muhajirin tentang Isa Bin Maryam/ Raja Najasyi pun menjelaskan bahwa apa yang diterangkan oleh kaum Muhajirin tidaklah jauh berbeda dengan yang menjadi keyakinannya// Najasyi pun mengembalikan hadiah-hadiah dari kaum Musyrik kepada kedua utusan tadi// sejak saat itulah kaum Muslimin tinggal di Habasyah dengan tenang dan tentram/ sementara kedua utusan Quraisy kembali ke Makkah dengan tangan hampa dan hati yang dongkol//
Setelah beberapa lama tinggal di Habasyah dalam keadaan tentram/ sampailah kepada mereka berita tentang masuk islamnya penduduk Makkah// mendengar berita ini/ mereka segera berniat untuk kembali ke Makkah/ namun ketika mereka hampir tiba di kota Makkah mereka baru tahu kalau ternyata berita itu berbeda dengan kenyataannya/ akhirnya ada diantara mereka yang kembali lagi ke Habasyah dan ada yang tetap memasuki Makkah// akan tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang masuk Makkah kecuali setelah mendapat jaminan perlindungan dari salah satu tokoh Quraisy ataupun dengan cara sembunyi-sembunyi// diantara mereka yang masuk Makkah dengan perlindungan ialah Utsman bin Mazh'Un/ ia masuk dengan perlindengan dari aLWalid Bin Mughiroh/ dan Abu Salamah masuk dengan perlindungan Abu Tholib
Demikianlah pendengar yang budiman… kisah perjalanan hijrah pertama dalam Islam yaitu hijrah ke Habasyah/ dimana sebagian kaum muslimin hendak mencari perlindungan dari raja Najasyi agar tetap bisa menjalankan keyakinannya tanpa ada gangguan dan intimidasi// semoga hal ini bisa semakin menambah khazanah keilmuan kita tentang sejarah perjuangan kaum Muslimin dan membangkitkan semangat kita untuk senantiasa meniti jejak generasi terbaik salaful Ummah dengan tetap berpegang teguh pada Qur'an dan Sunnah//
membantu membangkitkan ummat yang terlena dengan kejayaan masa lalu tanpa menyongsong masa depan...jadi mangga nyandak artikel anu manfa'at ti dieu nya
Minggu, 20 Juni 2010
TINTA EMAS
HIJRAH KE HABASYAH ( Hijrah pertama dalam Islam )
Ketika Nabi SAW melihat keganasan kaum musyrikin kian hari semakin bertambah keras/ sedangkan beliau SAW tidak dapat memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin/ beliau pun berkata pada mereka ''alangkah baiknya jika kalian dapat berhijrah ke negri Habasyah karena disana terdapat seorang raja yang adil sekali/ dibawah kekuasaannya tidak seorang pun boleh dianiaya// karena itu pergilah kalian ke sana sampai Alloh memberikan jalan keluar kepada kita karena negri itu adalah negri yang cocok untuk kalian''//
Akhirnya berangkatlah kaum Muslimin ke nagri Habasyah demi menghindari fitnah dan lari menuju Alloh dengan membawa agama mereka// hijrah ini merupakan hijrah pertama dalam Islam/ diantara kaum Muhajir yang terkemuka adalah 'Utsman Bin 'Affan dan Istrinya yaitu Ruqoyyah binti Rosululloh SAW / Abu Hudzaifah beserta istrinya/ Zubair bin Awwam/ Mush'ab bin Umair dan Abdurrohman bin 'Auf// keberengakatan kaum muslimin ke Habasyah ini dilakukan dengan bergelombang atau beberapa kali pemberangkatan/ sampai akhirnya terkumpullah para shahabat Rosulullloh SAW kurang lebih sebanyak 80 orang di Habasyah/ ketika di Habasyah kaum MUslimin benar-banar disambut dengan baik/ mendapatkan jaminan keamanan dan melaksanakan ibadah dengan tenang/ tentram dan tanpa intimidasi ataupun tekanan dari kaum Musyrik//
Ketika kaum musyrikin Quraisy mengetahui bahwa sahabat-sahabat Rosululloh SAW hijrah ke Habasyah dan mereka pun dalam keadaan aman dan tentram di Habasyah/ maka mereka sepakat segera mengutus dua orang diplomat Quraisy yang kuat pendiriannya untuk bertemu raja Najasyi// kedua utusan Quraisy itu adalah Abdulloh bin Abi Robi'ah and Amr Bin 'Ash yang ketika itu belum masuk Islam/ mereka dibekali berbagai macam hadiah// hadiah-hadiah ini diberikan pada sang raja/ para pembantu dan para pendetanya dengan harapan agar mereka menolak kaum Muslimin dan mengembalikannya pada kaum musyrik Makkah// Sebelum kedua utusan ini menghadap raja Najasyi/ mereka terlebih dahulu melobi para pembantu dan uskupnya seraya menyerahkan hadiah yang dibawanya dari Makkah agar para pembantu dan uskupnya itu mendukung maksud kaum Musrik/ kemudian mereka berbicara pada raja Najasyi tentang kaum muhajir tersebut seraya menjelaskan kalau ternyata kaum Muhajirin itu adalah orang-orang yang meninggalkan agama kaumnya dan tidak pula masuk agama Najasyi dan mereka pun mengutarakan maksud kedatangan mereka/ ternyata raja Najasyi menolak untuk menyerahkan kaum Muslimin kepada kedua utusan itu sebelum dia menanyai kaum muhajir tentang agama baru yang dianutnya//
Di panggillah kaum Muslimin untuk menghadap raja Najasyi/ akhirnya Kaum Muslimin dan kedua utusan itu dihadapkan pada raja Najasyi/ raja Najasyi bertanya kepada kaum Muslimin ''agama apakah yang membuat kalian meninggalkan agama yang dipeluk oleh masyarakat kalian dan kalian pun tidak masuk ke dalam agamaku serta tidak masuk ke dalam salah satu agama yang ada?''
Ja'far Bin Abu Tholib selaku juru bicara kaum Muslimin pada waktu itu menjelaskan ''baginda raja… kami dahulu adalah orang-orang jahiliyyah/ menyembah berhala/ memakan bangkai/ berbuat zina/ memutuskan hubungan persaudaraan/ berlaku buruk terhadap tetangga/ dan yang kuat diantara kami menindas yang lemah// kemudian Alloh SWT mengutus seorang Rosul kepada kami/ kami mengenal nasabnya/ kami tahu betul kejujuran dan kesuciannya/ ia mengajak kami supaya mengesakan Alloh dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun juga/ ia memerintahkan kami supaya berbicara benar/ menunaikan amanah / memelihara persaudaraan/ berlaku baik terhadap tetangga/ menjauhkan diri dari segala perbuatan harom dan pertumpahan darah/ melarang kami berbuat jahat/ berdusta/ dan memakan harta milik anak yatim// kemudian kami beriman kepadanya / membenarkan semua tutur katanya/ menjauhi apa yang diharomkan olehnya dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami// karena itulah kami dimusuhi oleh masyarakat kami/ mereka menyiksa dan menganiaya kami/ memaksa kami supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala// mereka menindas dan memperlakukan kami sewenang-wenang dan menghalangi kami untuk menjalani agama kami/ kami terpaksa pergi ke negri baginda/ kami tidak menemukan pilihan lain kecuali baginda dan kami berharap tidak akan diperlakukan sewenang-wenang di negri baginda''//
Setelah mendengar penjelasan dari Ja'far Bin Abu Tholib/ raja Najasyi kembali bertanya '' Apakah kamu dapat menunjukan kepada kami sesuatu yang dibawa oleh Rosul Alloh itu?'' lalu Ja'far pun membacakan permulaan surat Maryam/ setelah mendengar firman Alloh itu/ berlinanglah airmata Najasyi sampai membasahi jenggotnya/ lalu berkata ''apa yang kau baca dan apa yang dibawa oleh nabi Isa sesungguhnya keluar dari sumber yang sama'' Najasyi pun kemudian menoleh kepada kedua orang utusan kaum Musyrikin seraya mempersilahkan mereka untuk pulang dan menegaskan kalau dia tidak akan menyerahkan kaum Muslimin kepada mereka//
Ketika kedua utusan Quraisy itu keluar dari hadapan Najasyi maka 'Amr Bin Ash berencana mendatangi kembali Najasyi dan memojokkan kaum Muhajirin dengan isu tentang Isa bin Maryam// Keesokan harinya/ utusan kaum Musyrik itu kembali menghadap raja Najasyi seraya menjelaskan kalau ternyata kaum Muhajirin itu menjelekkan Isa putra Maryam// kemudian untuk yang kedua kalinya Kaum Muslimin pun dihadapkan kembali pada raja Najasyi/ kali ini raja Najasyi ingin mendengar bagaimana pandangan kaum Muslimin terhadap Isa AlMasih// Ja'far pun kembali menerangkan ''pandangan kami terhadap Isa bin Maryam sesuai apa yang diajarkan oleh Nabi kami / bahwa Isa adalah hamba Alloh/ utusan Alloh/ ruh Alloh dan Kalimat-Nya yang ditiupkan ke dalam rahim Maryam yang masih perawan dan sangat tekun beribadah''
Setelah mandengar penjelasan dari kaum Muhajirin tentang Isa Bin Maryam/ Raja Najasyi pun menjelaskan bahwa apa yang diterangkan oleh kaum Muhajirin tidaklah jauh berbeda dengan yang menjadi keyakinannya// Najasyi pun mengembalikan hadiah-hadiah dari kaum Musyrik kepada kedua utusan tadi// sejak saat itulah kaum Muslimin tinggal di Habasyah dengan tenang dan tentram/ sementara kedua utusan Quraisy kembali ke Makkah dengan tangan hampa dan hati yang dongkol//
Setelah beberapa lama tinggal di Habasyah dalam keadaan tentram/ sampailah kepada mereka berita tentang masuk islamnya penduduk Makkah// mendengar berita ini/ mereka segera berniat untuk kembali ke Makkah/ namun ketika mereka hampir tiba di kota Makkah mereka baru tahu kalau ternyata berita itu berbeda dengan kenyataannya/ akhirnya ada diantara mereka yang kembali lagi ke Habasyah dan ada yang tetap memasuki Makkah// akan tetapi tidak seorang pun diantara mereka yang masuk Makkah kecuali setelah mendapat jaminan perlindungan dari salah satu tokoh Quraisy ataupun dengan cara sembunyi-sembunyi// diantara mereka yang masuk Makkah dengan perlindungan ialah Utsman bin Mazh'Un/ ia masuk dengan perlindengan dari aLWalid Bin Mughiroh/ dan Abu Salamah masuk dengan perlindungan Abu Tholib
Demikianlah pendengar yang budiman… kisah perjalanan hijrah pertama dalam Islam yaitu hijrah ke Habasyah/ dimana sebagian kaum muslimin hendak mencari perlindungan dari raja Najasyi agar tetap bisa menjalankan keyakinannya tanpa ada gangguan dan intimidasi// semoga hal ini bisa semakin menambah khazanah keilmuan kita tentang sejarah perjuangan kaum Muslimin dan membangkitkan semangat kita untuk senantiasa meniti jejak generasi terbaik salaful Ummah dengan tetap berpegang teguh pada Qur'an dan Sunnah//
Rabu, 02 Juni 2010
adolf roberto
Adolf Roberto: Kembali pada Islam, Setelah Mengetahui Orang yang Ia Siksa Adalah Ayahnya
Suatu hari, di salah satu penjara Spanyol tempat para tahanan muslim mendekam terasa hening mencekam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
Setiap penghuni penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu melintas di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka. Akan tetapi.. tiba-tiba Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
Roberto berteriak sekeras-kerasnya seraya matanya. “Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Namun Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.
Dengan sangat marah, Roberto menyemburkan ludahnya ke wajah sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang, karena usia yang senja. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Akan tetapi… Dari bibir yang pucat kering milik sang tahanan itu tidak terdengar keluh kesakitan, tak terdengar rintihan apa-apa, justru dengan jelas dari mulutnya terdengar teriakan, “Rabbi, wa ana ‘abduka…” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir seraya berkata, “Bersabarlah wahai ustadz… InsyaAllah tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, amarah ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ia segera menarik tubuh orang tua itu sekeras-kerasnya sehingga tubuh orangtua itu terjerembab di lantai.
Roberto pun membentak.. “Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu? Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini… kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. kau telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tidak didengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk kedalam agama kami.”
Mendengar “ancaman” itu, sang tahanan tua itu mendongakkan kepalanya, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Kemudian ia pun berkata; “Sungguh… aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, dzat yang maha mencipta dan maha mengasihi, yaitu Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemui-Nya, pantaskah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku akan termasuk manusia yang teramat bodoh…”
Sesaat setelah kata-kata itu meluncur, sebelum tahanan itu sempat mengucapkan kalimat selanjutnya, tiba-tiba sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajah sag tahanan tua itu. Sang tahanan itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustadz terlebih dahulu mengambil dan menggenggam-nya erat-erat.
Melihat reaksi sang tahanan itu, Adolf Roberto pun membentak dengan geram “Berikan buku itu, hai tua bangka dungu!”,
Maka dengan tatapan menghinakan, sang ustadz pun berkata pada Roberto.. “haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!”.
Mendengar ucapan sang tahanan itu, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar, membuat miris dan bergetar hati yang mendengarnya. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis sang algojo tahanan itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari sang tahanan tua yang telah hancur.
Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya berang. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Tiba-tiba… algojo itu Mendadak termenung. Hatinya terheran dan bertanya-tanya.. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Mmhh Tetapi…? Ya, aku pernah mengenal buku ini.”
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama dari buku itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Hatinya pun bergumam, Rasanya.. dulu aku pernah mengenal tulisan seperti ini. Namun, sekarang aku tak pernah melihatnya di bumi Sepanyol.
Untuk menjawab keheranannya dalam hati, Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat-terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekacauan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia yang waktu itu dinamakan lapangan inkuisisi. Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.
Di ujung kiri lapangan, puluhan wanita berhijab digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara itu.., di tengah lapangan.. ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para pendeta.
Seorang anak laki-laki yang tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Anak laki-laki comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan ia mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sambil menggayuti umminya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, “Ummi.., ummi.., ayo kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi.., cepat pulang ke rumah ummi…”
anak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak menjawab ajakannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus diperbuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya ia berteriak memanggil ayahnya, “Abi…Abi…Abi…” Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang ayah ketika teringat petang kemarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
tiba-tiba segerombolan orang mendekati anak tersebut seraya berkata… “Hai…siapa kamu?!” sang anak pun menjawab..seraya memelas kasih “aku Ahmad Izzah, aku sedang menunggu Ummi…”
mendengar jawaban anak kecil itu, salahs eorang dari mereka membentak.. “Hah… coba ulangi.. siapa namamu anak kecil,!”
anak kecil itu kembali menjawab dengan nada suara agak kasar.. “Saya Ahmad Izzah…”
Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. Silelaki kasar itu manampar anak kecil itu sraya mengancam.. “Hai bocah…! Wajahmu menawan tapi namamu bodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’… Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh kau!”
Anak itu mengigil ketakutan, seraya meneteskan air mata… Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya anak tampan itu hidup bersama mereka.
Roberto sadar dari renungan panjangnya. Seketika itu sang algojo penjara melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat ia merobek baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki tua itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia pun berteriak histeris, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis dengan kerasnya, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik ayahnya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ketika hendak menidurkannya. Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusat.
Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh ustadz yang sudah tua nan lemah itu. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas perlakuan yang baru saja ia timpakan terhadap ayahnya. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya.
Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. Roberto pun memohon seraya berkata “abi… Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…”
Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat itu. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah, menjawab permintaan buah hatinya.. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir, Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla IllaahailAllah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah…” Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
Tak berapa lama setelah peristiwa itu, Ahmad Izzah telah menjelma menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, ia bersungguh-sungguh mengganti kekafiran masa mudanya dengan keislaman dan mengajarkannya pada orang lain. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru negri, berguru padanya…”
Segala kebenaran milik Allah yang telah berfirman dalam surat Ar-Ruum ayat ke 30, yang artinya; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrohnya itu. Tidak ada perubahan atas fitroh Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
tak ada alasan lagi membenci ISLam
Tak Ada Alasan Lagi Membenci Islam
“Namaku Abdul Hakim. Aku dilahirkan 24 tahun yang lalu di tengah teriknya sinar matahari di Spanyol. Ibuku asli Perancis, dan ayah asal Spanyol,”
Aku tinggal di Spanyol hanya dua tahun. Lalu pindah ke Perancis ikut kedua orang tuaku. Setelah selesai dari sekolah menengah atas, di usiaku yang ke 18, Aku pindah ke Inggris untuk melanjutkan studi di Universitas Sheffield, Jurusan Teknik Kimia,.
“Pertama sekali aku ingin tekankan bahwa hingga usiaku 18 tahun, aku tidak suka sama sekali dengan Islam. Kala itu aku baru memasuki tahun pertama kuliah di Inggris,” aku bahkan pernah bergabung dengan salah satu kelompok ekstrim yang sukanya “memerangi” pemeluk Islam. ada dua alasan kenapa aku masuk grup tersebut,
“Pertama, karena keluarga dan juga teman-temanku dulunya semua pendukung nasionalis dan rasisme. Jadi aku ingin “membersihkan” lingkungan dari orang-orang yang tak kusukai.
Alasan Kedua adalah karena pengalaman pribadi, di mana aku pernah diserang secara pisik dua kali oleh warga asing asal Aljazair,”
Pada suatu saat ketika studi di Inggris, Aku menjalin hubungan persahabatan dengan sejumlah siswa asal Asia. Kebanyakan anak-anak dari Malaysia dan Indonesia. Saat itu aku tidak tahu sama sekali teman-teman saya itu semuanya beragama Islam. Sebab sebelumnya dia selalu mengidentikkan Islam dengan Arab.
Teman-teman muslim yang aku kenal itu semuanya mempraktekkan Islam dalam kehidupan harian mereka. Nah secara perlahan aku menemukan sesuatu yang lain dari Islam. Ini muncul murni dari hatiku, tanpa ada tekanan atau paksaan dari mereka untuk masuk Islam. Melihat perangai dan perilaku mereka pikiranku tentang Islam mulai berubah. Islam ternyata berbeda sama sekali dari yang pernah kudengar dan kubayangkan di masa lampau. Islam ternyata sangat toleran. Islam berarti kejujuran, keterbukaan, kasih sayang dan rasa damai. Yang bikin aku makin terkesan, ternyata orang-orang Islam punya kepedulian terhadap muslim lainnya,”
Apa yang telah aku amati benar-benar membuat aku syok. Saban hari aku semakin termotivasi untuk “mengintip” kelakuan mahasiswa muslim di kampus.
“Mereka bahkan tidak tahu aku sedang menjalankan misi seperti “spionase terhadap mereka.” Aku benar-benar ingin tahu tentang Islam. Makin hari makin membuncah saja. Kebencianku terhadap Islam, kini justru berganti dengan keingintahuan. Sebab perangai dan tingkah laku mereka berbanding terbalik dengan prasangkaku akan Islam sebelumnya.
Perilaku ternyata lebih hebat daripada sejumlah kata-kata. “Aku belajar dari mereka tentang perilaku yang benar sebagai seorang muslim. Hal ini jauh dari apa yang pernah kulihat selama di Perancis,”
Kurang dari setahun, Aku telah belajar banyak hal. Alhasil, dia berani mengambil kesimpulan bahwa Islam itu ternyata amat mengagumkan. “Islam luar biasa!”
“Pada tahap ini, tanpa sepengetahuan seorangpun, aku mulai mempelajari Islam secara serius. Aku segera mencari mushaf Al-Quran sebagai tahap awal mempelajari Islam.
Aku mencarinya ke masjid. Namun, untuk mendekat ke mesjid kala itu aku tak punya keberanian sama sekali. Aku takut ketahuan teman-temanku yang muslim. Entahlah aku sedikit tertekan kala itu. Tak tahu apa yang mesti kulakukan,”
Pada suatu hari.. aku sedang berjalan menyusuri kota dan berharap bisa memperoleh Al-Quran. Entah bagaimana aku melewati satu kawasan dimana disana sedang ada pameran Islam, Aku pun tak menyia-nyiakan peluang yang sudah di depan mata. aku yakin disitu tak ada seorang pun yang kenal denganku. Awalnya akua agak ragu-ragu namun karena rasa ingin tahu yang sudah membuncah aku pun memberanikan diri meminta sepotong mushaf Al-Quran beserta terjemahannya.
Selepas mendapatkan Al-Quran yang sekian lama kucari-cari, akupun bersegera pulang ke rumah dan langsung mempelajarinya. “Sedikit demi sedikit aku bisa tahu apa itu Islam. Aku ingin Islam hadir karena usahaku sendiri dan bukan karena paksaan atau tekanan orang lain. Aku juga tidak suka adu argumentasi atau berdebat. Aku hanya ingin menemukan jawaban apa itu Islam. Aku benar-benar ingin tahu.
“Beberapa hari berselang, persis selepas aku memperoleh Al-Quran, bulan suci Ramadhan tiba. Muncul ide yang kuanggap “gila” kala itu. Aku mau coba berpuasa, kendati belum jadi muslim! Tak hanya itu selama bulan Ramadhan kuhabiskan waktu setiap hari dengan mempelajari Al-Quran.
“Allah akhirnya membuka pintu hatiku. Suatu ketika di tengah malam, persis di pertengahan bulan Ramadhan, aku merasakan betapa indahnya Islam itu. Pengajarannya begitu mengagumkan dan penuh makna. Simpel tapi mendasar, dan yang terpenting lagi rasional, adalah Islam itu mudah dipahami. Ini yang begitu membuatku terkesima, aku sama sekali tidak merasa takut untuk menjadi seorang muslim.
Mungkin karena hal ini benar-benar datang dari hati nuraniku sendiri, bukan karena paksaan.
Begitulah, akhirnya pada 30 Maret 1997, Aku mengikrarkan 2 kalimah syahadah. Prosesi singkat itu berlangsung di kamarku. Sendirian tanpa ada yang menjadi saksi.
“Kala itu, aku ingin shalat tapi belum tahu bagaimana caranya. Gerakan-gerakannya aku tahu, tapi apa yang harus dibaca itu yang aku masih belum tahu. Namun shalat tetap kulakukan sebisa mungkin lima kali sehari. Tak berapa lama berselang aku pun melakukan prosesi syahadah secara formal di mesjid, di depan para saksi. Dan, saat ini aku dengan bangga sudah dapat menunjuk diri sebagai seorang muslim. Allahu Akbar!, aku berteriak dengan gembira.
”Aku berharap banyak orang bisa menjadikan kisahku ini sebagai bahan pelajaran. Baik itu untuk yang muslim maupun bukan.
Aku tinggal di kota Sheffield untuk studi Teknik Kimia selama 4 tahun. Selepas studi aku berencana untuk mencari pengalaman kerja di kota ini.
Menariknya, di tahun terakhir, Aku bertemu dengan seorang wanita asal Brunei yang juga sedang studi di sana. Di kemudian hari perempuan Melayu itu pun menjadi pendamping hidupnya.
“Muslimah asal Brunei itu kunikahi persis disaat aku menyelesaikan studiku. Tepatnya, tanggal 20 Juni 1997. Setahun kemudian rumah kami makin semarak dengan kehadiran buah hati kami seorang anak perempuan mungil dan lucu.
Setelah itu kami memutuskan pindah ke Brunei. kami telah berniat untuk tinggal menetap di negeri yang juga salah satu negeri muslim kaya. “Kami ingin agar putri semata wayang kami bisa besar dan tumbuh di dalam lingkungan Islami,” Dan pada bulan Maret tahun 2000 kebahagiaan kami makin lengkap dengan kelahiran putri kedua kami.
“Saat ini, baik aku dan istriku, belum mempunyai pekerjaan yang tetap lagi. Namun aku sangat yakin dengan khazanah Allah. Jika Dia menghendaki sesuatu terjadi, maka dengan mudah hal itu segera terjadi. Sebaliknya jika Allah tidak menginginkan sesuatu terjadi, maka juga tidak akan terjadi. Aku akan terus berusaha sembari berdoa. Semua kuserahkan kepada Alloh untuk memutuskan..Hanya kepada Allah kita meletakkan segala harapan dan mohon pertolongan. Aku meyakini bahwa tiada Ilaah selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah,”
Minggu, 07 Maret 2010
artikel islami
PROBLEM RELATIVISME KEBENARAN DALAM PANDANGAN ISLAM
Pendahuluan
Berbagai upaya makar saat ini sangat gencar dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Mereka menggunakan pola-pola baru untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, berupa serangan melalui arus pemikiran. Kancah pertempuran ini lebih dikenal dengan istilah al-ghazw al-fikry (perang pemikiran). Efek dari serangan seperti ini tidak kalah dahsyatnya bahkan jauh lebih berbahaya dari serbuan atau ekspansi militer, dimana titik sentral serangan mereka diarahkan kepada hal-hal fundamen di dalam Islam, sehingga dengannya kaum muslimin akan sangat mudah terjerumus dan terbawa arus penyesatan. Hal-hal yang sangat jelas dalam Islam dan seharusnya telah menjadi keimanan yang kokoh akan sangat mungkin diragukan atau diingkari, akibat kesalahan fatal dalam metode pengambilan ilmu dan pemahamannya, disaat arus serangan itu datang dengan gencar.
Dengan demikian penjelasan tentang konsep kebenaran dalam Islam menjadi sangat penting sebagai upaya membentengi umat dari berbagai serangan pemikiran tersebut.
Senjata itu Bernama Relativisme
Salah satu dari berbagai efek negatif postmodernisme yang saat ini telah tersebar di masyarakat adalah paham relativisme kebenaran. Paham yang telah menjadi tren ini sering kali dijadikan senjata yang dihunus oleh para aktivis liberal dalam membantah metode pemahaman terhadap ajaran Islam dari para ulama terdahulu - al-salaf al-shâlih - yang telah mereka anggap kuno dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.
Sudah tidak mengherankan apabila dalam ajang diskusi dan perdebatan, mereka sering menolak penjelasan dan penafsiran ayat al-Qur’an maupun hadits dari lawan debat mereka dengan lontaran kalimat ‘itukan menurut pemahaman anda’, atau ‘yang saya pahami tidak seperti apa yang anda katakan’, dan kalimat lain sejenis yang menggambarkan keyakinan mereka bahwa penafsiran agama yang dilakukan oleh para ulama tidaklah identik dengan klaim kebenaran yang harus diikuti, karena kebenaran itu sendiri –menurut mereka- adalah sesuatu yang relatif, tidak mutlak atau absolut.
Pada intinya, mereka meyakini bahwa pemahaman terhadap agama bukanlah sesuatu yang sakral dan suci, sehingga dengan demikian setiap orang berhak untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan logika dan alur fikirannya masing-masing. Setiap orang bebas memilih bentuk, atau bahkan membentuk sendiri, cara beragama masing-masing. Bagi mereka tidak penting bagaimana dan dengan cara apa seseorang melaksanakan ajaran agama yang diyakininya, karena ada banyak kebenaran (many truth) yang bisa dicapai seseorang dengan banyak jalan.
Pada akhirnya setiap orang –dengan cara berfikir amburadul dan kufur seperti ini- dianggap sah-sah saja membuat tata aturan sendiri, termasuk dalam semua aspek beragama sekalipun, dengan membuat pola yang dia yakini sebagai kebenaran. Mereka tidak perlu lagi terikat pada syariat yang diajarkan oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Jadilah mereka –dengan demikian- sebagaisyâri’ (penentu dan pembuat syariat), yang tidak terikat pada syariat apapun, kecuali syariat yang mereka buat dan ramu itu. Jalan boleh berbeda yang penting tujuannya sama. Sekali lagi, itu kata mereka.
Dahsyatnya efek negatif pemikiran –yang telah menjadi arus liar- ini tidaklah sebegitu mengkhawatirkan, manakala kehadirannya hanya dalam tataran atau batas wilayah gagasan, atau ketika wacana yang dilontarkan berada dalam pagar kampus sebuah perguruan tinggi, yang memang seringkali menjadi ajang pertempuran berbagai konsep pemikiran. Walaupun itu saja sudah harus segera diluruskan, karena tidak ada toleransi pembenaran pada sebuah kebathilan.
Tapi masalahnya akan menjadi sangat berbeda ketika konsep pemikiran ini disebarluaskan kepada lapisan grass root, dida’wahkan dengan sangat masif, melalui berbagai pola yang sangat destruktif, dengan didukung oleh puluhan media cetak dan elektronik serta suntikan dana besar-besaran dari berbagai lembaga donor berkelas internasional, dengan menerbitkan buku-buku dan segenap upaya yang sangat sistematis. Ironisnya pula, para pengusungnya bukanlah ‘orang sembarangan’, tetapi para tokoh kunci dan pimpinan perguruan tinggi atau institusi Islam yang dihormati dan dianggap memiliki kredibilitas dalam masalah agama.
Terlebih lagi ketika para pengasong dan pengecer ide-ide liberal ini sangat ingin agar produk mereka juga bisa -dikemas dengan cara sederhana- menjadi bahan diskusi yang mewarnai masjid dan mushalla sampai ke pelosok desa. Berbagai upaya serius yang mereka lakukan dalam rangka memasarkan tema-tema liberal ini pada dasarnya adalah untuk menjaga eksistensi islam liberal, dimana seluruh lapisan masyarakat dapat menerimanya. Benar-benar membumi.(Lihat: Handrianto, 2007 : 81-82).
Konsep Kebenaran di dalam Islam
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan sangat sempurna dan teratur. Seluruh makhluk ciptaan-Nya juga tersusun dengan pola dan sistem yang sangat sempurna. Manusia sebagai makhlukmukallaf juga telah diberikan-Nya tuntunan yang sangat terang dan jelas dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Mereka tidak dibiarkan begitu saja bebas memilih jalan, menentukan pilihan hidup, dan mencari panduan sesuka hati.
Pedoman hidup bagi manusia telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan dengan wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Ia mengutus Rasul-Nya sebagai basyîr (pemberi kabar gembira) juga sekaligus sebagai nadzîr (pemberi peringatan). Kabar gembira berupa jannah dan kenikmatannya –di akhirat kelak- bagi mereka yang mengikuti jalan-Nya, dan peringatan akan nâr dan siksaannya bagi para penyimpang dan pembangkang.
Pedoman inilah yang bila seseorang mengikutinya pasti akan mendapatkan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan. Bahkan di dunia ia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha:123-124).
Ditambah pula dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa mereka tidak akan merasakan kekhawatiran dan tidak bersedih hati. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman :
“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 38-39).
Dari ayat tersebut dipahami bahwa seseorang yang mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan bersedih –khususnya ketika meninggalkan dunia- atas urusan dunia yang tidak diperolehnya, di dunia ia tidak akan tersesat, dan di akhirat ia tidak akan sengsara, sebaliknya akan senantiasa bahagia di dalam surga nanti. (Ibn Katsir, tafsir S. Al Baqarah; 38-39, Zaydan : al-Sunan al-Ilahiyyah, http://saaid.net). Adapun bagi mereka yang mengingkari petunjuk AllahSubhanahu wa Ta’ala, membangkang dan berpaling, maka akan mendapatkan kehidupan yang sempit, dan di akhirat akan kekal di dalam neraka.
Kebenaran Hanya didalam Islam
Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah petunjuk yang sebenarnya, yang pantas dinamakan petunjuk. Di dalam Islam petunjuk ini disebut dengan al-hudaatau al-hidâyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah petunjuk (yang sebenarnya)".(QS. Al Baqarah: 120).
Hidayah inilah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk disampaikan kepada umatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak”. (QS. Al Fath:28).
Hidayah tersebut adalah agama Islam, yang didalamnya terdapat petunjuk bagi seluruh manusia. Tidak ada sedikitpun petunjuk yang akan didapat diluar Islam, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya pemilik hidayah telah menyatakan bahwa satu-satunya agama yang diridhai-Nya hanyalah Islam.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali Imran:19).
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran:85).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran hanya akan didapatkan di dalam Islam. Jika seseorang mencari kebenaran diluar Islam, atau membuat pola dan aturan sendiri yang diyakininya sebagai kebenaran, pada dasarnya ia berada dalam kesesatan dan kerugian.
Kemudian, jalan kebenaran yang harus diikuti dan jalan kebathilan yang harus dijauhi itu telah dengan jelas diterangkan melalui wahyu-Nya, al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Dzar z meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dimana ia berkata:
تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ n، وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ، إِلا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا، قَالَ: فَقَالَn : (( مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ )).
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah wafat meninggalkan kami, dan tidak seekorpun burung yang terbang membolak-balikkan kedua sayapnya di udara, beliau pasti telah menerangkan ilmunya kepada kami. Abu Dzar z berkata: Beliaupun telah bersabda: “Tidak tersisa sedikitpun sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga, dan menjauhkan kalian dari neraka, sungguh pasti telah dijelaskan kepada kalian”.(Shahih, H.R Imam al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, 2/166 no. 1647).
Dari penjelasan ayat dan hadits tersebut sangat jelas bahwa pemahaman para pengusung liberalisme dan pluralisme sangatlah menyesatkan. Mereka meyakini adanya nilai-nilai kebenaran diluar Islam, bahkan semuanya –tanpa melihat agama apapun- berada di jalan yang benar.
Paham relativisme kebenaran yang berkonsekwensi meyakini adanya kebenaran pada semua agama ini telah menjadi masalah ushûl bagi para pengusung sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme).
Dalam The New
Paham relativisme kebenaran inilah yang kemudian membuahkan paham pluralisme agama, dimana mereka menyatakan bahwa ‘semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama’, atau dengan kata lain ‘semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama’.
Mereka, para liberalis dan pluralis serta orang-orang yang telah terkena virusnya, pasti akan senantiasa berada dalam kesempitan hidup, seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan (lihat Q.S Thaha:123-124) akibat berpaling dari hidayah-Nya. Mereka tidak pernah sampai pada keimanan, karena senantiasa diliputi keraguan akan kebenaran Islam. Sikap skeptis inilah yang menjadikan mereka selalu terombang ambing, mengejar fatamorgana kebenaran yang tak akan pernah mereka dapatkan. Telah hilang dari diri mereka keimanan kepada wahyu Allah dan syariat Rasul-Nya. Yang ada hanyalah penghambaan kepada akal dan hawa nafsu mereka.
Penutup
Problem relativisme kebenaran adalah salah satu tantangan da’wah bagi para ulama, da’i, dan sarjana muslim yang mukhlis. Umat saat ini sangat membutuhkan bimbingan. Teramat banyak masalah yang sebenarnya ma’lûm min al-dîn bi al-dharûrah, tetapi belum diketahui dan dipahami dengan baik oleh umat Islam. Tentu, sebelum segalanya terlambat, diperlukan kerja keras dari paradâ’i ilallâh untuk menjelaskan kepada umat tentang ajaran Islam, baik secara global maupun terperinci dalam semua aspeknya, agar ketika datang serbuan musuh-musuh Islam kita dapat menghadapinya dengan langkah antisipatif dan persiapan yang matang.
Tentu kita tidak menginginkan, masih ada saja seorang muslim yang ketika diberi nasihat untuk meninggalkan perbuatan maksiatnya, ia mengatakan: ‘yang pentingkan niatnya baik’, sebagai tanda pengabaian pada tuntunan syariat Islam yang harus diikuti, dan pemahamannya bahwa dibalik kemaksiatannya ia tengah berada ‘dijalan yang benar’, yang sangat mungkin ia telah terjangkiti virus liberal.
Wallâhul Musta’ân.
DAFTAR PUSTAKA
Handrianto, Budi, 50 Tokoh Islam Liberal
Zaidân, ‘Abdul Karîm, al-Sunan al-Ilâhiyyah fi al-Umam wa al-Jamâ’ât wa al-Afrâd fi al-Syarî’ah al-Islâmiyyah,