Adolf Roberto: Kembali pada Islam, Setelah Mengetahui Orang yang Ia Siksa Adalah Ayahnya
Suatu hari, di salah satu penjara Spanyol tempat para tahanan muslim mendekam terasa hening mencekam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
Setiap penghuni penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu melintas di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka. Akan tetapi.. tiba-tiba Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
Roberto berteriak sekeras-kerasnya seraya matanya. “Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Namun Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.
Dengan sangat marah, Roberto menyemburkan ludahnya ke wajah sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang, karena usia yang senja. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Akan tetapi… Dari bibir yang pucat kering milik sang tahanan itu tidak terdengar keluh kesakitan, tak terdengar rintihan apa-apa, justru dengan jelas dari mulutnya terdengar teriakan, “Rabbi, wa ana ‘abduka…” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir seraya berkata, “Bersabarlah wahai ustadz… InsyaAllah tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, amarah ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ia segera menarik tubuh orang tua itu sekeras-kerasnya sehingga tubuh orangtua itu terjerembab di lantai.
Roberto pun membentak.. “Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu? Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini… kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. kau telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tidak didengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk kedalam agama kami.”
Mendengar “ancaman” itu, sang tahanan tua itu mendongakkan kepalanya, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Kemudian ia pun berkata; “Sungguh… aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, dzat yang maha mencipta dan maha mengasihi, yaitu Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemui-Nya, pantaskah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku akan termasuk manusia yang teramat bodoh…”
Sesaat setelah kata-kata itu meluncur, sebelum tahanan itu sempat mengucapkan kalimat selanjutnya, tiba-tiba sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajah sag tahanan tua itu. Sang tahanan itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustadz terlebih dahulu mengambil dan menggenggam-nya erat-erat.
Melihat reaksi sang tahanan itu, Adolf Roberto pun membentak dengan geram “Berikan buku itu, hai tua bangka dungu!”,
Maka dengan tatapan menghinakan, sang ustadz pun berkata pada Roberto.. “haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!”.
Mendengar ucapan sang tahanan itu, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar, membuat miris dan bergetar hati yang mendengarnya. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis sang algojo tahanan itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari sang tahanan tua yang telah hancur.
Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya berang. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Tiba-tiba… algojo itu Mendadak termenung. Hatinya terheran dan bertanya-tanya.. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Mmhh Tetapi…? Ya, aku pernah mengenal buku ini.”
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama dari buku itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Hatinya pun bergumam, Rasanya.. dulu aku pernah mengenal tulisan seperti ini. Namun, sekarang aku tak pernah melihatnya di bumi Sepanyol.
Untuk menjawab keheranannya dalam hati, Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat-terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekacauan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia yang waktu itu dinamakan lapangan inkuisisi. Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.
Di ujung kiri lapangan, puluhan wanita berhijab digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara itu.., di tengah lapangan.. ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para pendeta.
Seorang anak laki-laki yang tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Anak laki-laki comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan ia mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sambil menggayuti umminya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, “Ummi.., ummi.., ayo kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi.., cepat pulang ke rumah ummi…”
anak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak menjawab ajakannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus diperbuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya ia berteriak memanggil ayahnya, “Abi…Abi…Abi…” Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang ayah ketika teringat petang kemarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
tiba-tiba segerombolan orang mendekati anak tersebut seraya berkata… “Hai…siapa kamu?!” sang anak pun menjawab..seraya memelas kasih “aku Ahmad Izzah, aku sedang menunggu Ummi…”
mendengar jawaban anak kecil itu, salahs eorang dari mereka membentak.. “Hah… coba ulangi.. siapa namamu anak kecil,!”
anak kecil itu kembali menjawab dengan nada suara agak kasar.. “Saya Ahmad Izzah…”
Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. Silelaki kasar itu manampar anak kecil itu sraya mengancam.. “Hai bocah…! Wajahmu menawan tapi namamu bodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’… Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh kau!”
Anak itu mengigil ketakutan, seraya meneteskan air mata… Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya anak tampan itu hidup bersama mereka.
Roberto sadar dari renungan panjangnya. Seketika itu sang algojo penjara melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat ia merobek baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki tua itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia pun berteriak histeris, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis dengan kerasnya, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik ayahnya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ketika hendak menidurkannya. Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusat.
Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh ustadz yang sudah tua nan lemah itu. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas perlakuan yang baru saja ia timpakan terhadap ayahnya. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya.
Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. Roberto pun memohon seraya berkata “abi… Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…”
Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat itu. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah, menjawab permintaan buah hatinya.. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir, Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla IllaahailAllah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah…” Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
Tak berapa lama setelah peristiwa itu, Ahmad Izzah telah menjelma menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, ia bersungguh-sungguh mengganti kekafiran masa mudanya dengan keislaman dan mengajarkannya pada orang lain. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru negri, berguru padanya…”
Segala kebenaran milik Allah yang telah berfirman dalam surat Ar-Ruum ayat ke 30, yang artinya; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrohnya itu. Tidak ada perubahan atas fitroh Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar