Tak Ada Alasan Lagi Membenci Islam
“Namaku Abdul Hakim. Aku dilahirkan 24 tahun yang lalu di tengah teriknya sinar matahari di Spanyol. Ibuku asli Perancis, dan ayah asal Spanyol,”
Aku tinggal di Spanyol hanya dua tahun. Lalu pindah ke Perancis ikut kedua orang tuaku. Setelah selesai dari sekolah menengah atas, di usiaku yang ke 18, Aku pindah ke Inggris untuk melanjutkan studi di Universitas Sheffield, Jurusan Teknik Kimia,.
“Pertama sekali aku ingin tekankan bahwa hingga usiaku 18 tahun, aku tidak suka sama sekali dengan Islam. Kala itu aku baru memasuki tahun pertama kuliah di Inggris,” aku bahkan pernah bergabung dengan salah satu kelompok ekstrim yang sukanya “memerangi” pemeluk Islam. ada dua alasan kenapa aku masuk grup tersebut,
“Pertama, karena keluarga dan juga teman-temanku dulunya semua pendukung nasionalis dan rasisme. Jadi aku ingin “membersihkan” lingkungan dari orang-orang yang tak kusukai.
Alasan Kedua adalah karena pengalaman pribadi, di mana aku pernah diserang secara pisik dua kali oleh warga asing asal Aljazair,”
Pada suatu saat ketika studi di Inggris, Aku menjalin hubungan persahabatan dengan sejumlah siswa asal Asia. Kebanyakan anak-anak dari Malaysia dan Indonesia. Saat itu aku tidak tahu sama sekali teman-teman saya itu semuanya beragama Islam. Sebab sebelumnya dia selalu mengidentikkan Islam dengan Arab.
Teman-teman muslim yang aku kenal itu semuanya mempraktekkan Islam dalam kehidupan harian mereka. Nah secara perlahan aku menemukan sesuatu yang lain dari Islam. Ini muncul murni dari hatiku, tanpa ada tekanan atau paksaan dari mereka untuk masuk Islam. Melihat perangai dan perilaku mereka pikiranku tentang Islam mulai berubah. Islam ternyata berbeda sama sekali dari yang pernah kudengar dan kubayangkan di masa lampau. Islam ternyata sangat toleran. Islam berarti kejujuran, keterbukaan, kasih sayang dan rasa damai. Yang bikin aku makin terkesan, ternyata orang-orang Islam punya kepedulian terhadap muslim lainnya,”
Apa yang telah aku amati benar-benar membuat aku syok. Saban hari aku semakin termotivasi untuk “mengintip” kelakuan mahasiswa muslim di kampus.
“Mereka bahkan tidak tahu aku sedang menjalankan misi seperti “spionase terhadap mereka.” Aku benar-benar ingin tahu tentang Islam. Makin hari makin membuncah saja. Kebencianku terhadap Islam, kini justru berganti dengan keingintahuan. Sebab perangai dan tingkah laku mereka berbanding terbalik dengan prasangkaku akan Islam sebelumnya.
Perilaku ternyata lebih hebat daripada sejumlah kata-kata. “Aku belajar dari mereka tentang perilaku yang benar sebagai seorang muslim. Hal ini jauh dari apa yang pernah kulihat selama di Perancis,”
Kurang dari setahun, Aku telah belajar banyak hal. Alhasil, dia berani mengambil kesimpulan bahwa Islam itu ternyata amat mengagumkan. “Islam luar biasa!”
“Pada tahap ini, tanpa sepengetahuan seorangpun, aku mulai mempelajari Islam secara serius. Aku segera mencari mushaf Al-Quran sebagai tahap awal mempelajari Islam.
Aku mencarinya ke masjid. Namun, untuk mendekat ke mesjid kala itu aku tak punya keberanian sama sekali. Aku takut ketahuan teman-temanku yang muslim. Entahlah aku sedikit tertekan kala itu. Tak tahu apa yang mesti kulakukan,”
Pada suatu hari.. aku sedang berjalan menyusuri kota dan berharap bisa memperoleh Al-Quran. Entah bagaimana aku melewati satu kawasan dimana disana sedang ada pameran Islam, Aku pun tak menyia-nyiakan peluang yang sudah di depan mata. aku yakin disitu tak ada seorang pun yang kenal denganku. Awalnya akua agak ragu-ragu namun karena rasa ingin tahu yang sudah membuncah aku pun memberanikan diri meminta sepotong mushaf Al-Quran beserta terjemahannya.
Selepas mendapatkan Al-Quran yang sekian lama kucari-cari, akupun bersegera pulang ke rumah dan langsung mempelajarinya. “Sedikit demi sedikit aku bisa tahu apa itu Islam. Aku ingin Islam hadir karena usahaku sendiri dan bukan karena paksaan atau tekanan orang lain. Aku juga tidak suka adu argumentasi atau berdebat. Aku hanya ingin menemukan jawaban apa itu Islam. Aku benar-benar ingin tahu.
“Beberapa hari berselang, persis selepas aku memperoleh Al-Quran, bulan suci Ramadhan tiba. Muncul ide yang kuanggap “gila” kala itu. Aku mau coba berpuasa, kendati belum jadi muslim! Tak hanya itu selama bulan Ramadhan kuhabiskan waktu setiap hari dengan mempelajari Al-Quran.
“Allah akhirnya membuka pintu hatiku. Suatu ketika di tengah malam, persis di pertengahan bulan Ramadhan, aku merasakan betapa indahnya Islam itu. Pengajarannya begitu mengagumkan dan penuh makna. Simpel tapi mendasar, dan yang terpenting lagi rasional, adalah Islam itu mudah dipahami. Ini yang begitu membuatku terkesima, aku sama sekali tidak merasa takut untuk menjadi seorang muslim.
Mungkin karena hal ini benar-benar datang dari hati nuraniku sendiri, bukan karena paksaan.
Begitulah, akhirnya pada 30 Maret 1997, Aku mengikrarkan 2 kalimah syahadah. Prosesi singkat itu berlangsung di kamarku. Sendirian tanpa ada yang menjadi saksi.
“Kala itu, aku ingin shalat tapi belum tahu bagaimana caranya. Gerakan-gerakannya aku tahu, tapi apa yang harus dibaca itu yang aku masih belum tahu. Namun shalat tetap kulakukan sebisa mungkin lima kali sehari. Tak berapa lama berselang aku pun melakukan prosesi syahadah secara formal di mesjid, di depan para saksi. Dan, saat ini aku dengan bangga sudah dapat menunjuk diri sebagai seorang muslim. Allahu Akbar!, aku berteriak dengan gembira.
”Aku berharap banyak orang bisa menjadikan kisahku ini sebagai bahan pelajaran. Baik itu untuk yang muslim maupun bukan.
Aku tinggal di kota Sheffield untuk studi Teknik Kimia selama 4 tahun. Selepas studi aku berencana untuk mencari pengalaman kerja di kota ini.
Menariknya, di tahun terakhir, Aku bertemu dengan seorang wanita asal Brunei yang juga sedang studi di sana. Di kemudian hari perempuan Melayu itu pun menjadi pendamping hidupnya.
“Muslimah asal Brunei itu kunikahi persis disaat aku menyelesaikan studiku. Tepatnya, tanggal 20 Juni 1997. Setahun kemudian rumah kami makin semarak dengan kehadiran buah hati kami seorang anak perempuan mungil dan lucu.
Setelah itu kami memutuskan pindah ke Brunei. kami telah berniat untuk tinggal menetap di negeri yang juga salah satu negeri muslim kaya. “Kami ingin agar putri semata wayang kami bisa besar dan tumbuh di dalam lingkungan Islami,” Dan pada bulan Maret tahun 2000 kebahagiaan kami makin lengkap dengan kelahiran putri kedua kami.
“Saat ini, baik aku dan istriku, belum mempunyai pekerjaan yang tetap lagi. Namun aku sangat yakin dengan khazanah Allah. Jika Dia menghendaki sesuatu terjadi, maka dengan mudah hal itu segera terjadi. Sebaliknya jika Allah tidak menginginkan sesuatu terjadi, maka juga tidak akan terjadi. Aku akan terus berusaha sembari berdoa. Semua kuserahkan kepada Alloh untuk memutuskan..Hanya kepada Allah kita meletakkan segala harapan dan mohon pertolongan. Aku meyakini bahwa tiada Ilaah selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar